Showing posts with label Humic acid Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Humic acid Indonesia. Show all posts

Wednesday, February 23, 2011

SARANA PRODUKSI: ‘Humic Acid’, Beri Harapan ke Petani

Lampung Post, Selasa 22 February 2011
BANDAR LAMPUNG—Tanah subur diperlukan untuk memperoleh tanaman berkualitas. Untuk meningkatkan kesuburan tanah ini diperlukan penambahan humus yang memiliki kandungan zat aktif humic acid pada lahan pertanian.

Selain itu, tanah juga memerlukan pupuk dan kompos. Pupuk lebih berperan sebagai nutrisi bagi tanaman. Sedangkan kompos lebih berfungsi sebagai material penyubur tanah karena mengandung humic acid. Selama ini upaya pengembalian kesuburan tanah oleh petani sudah banyak dilakukan dengan penambahan pupuk kandang. Tetapi karena proses pelapukan pupuk kandang belum sempurna, penggunaan pupuk ini justru sering menyebabkan keracunan pada tanaman. Dan kandungan humic acid di dalam pupuk kandang yang masih sangat rendah (sekitar 1%), menyebabkan kebutuhan pupuk kandang menjadi sangat besar (10—20 ton/ha). Akibatnya biaya tinggi dan sulit diaplikasikan.

Pupuk kandang juga sering menjadi media subur bagi pertumbuhan dan perkembangan bakteri ataupun jamur penyebab penyakit pada tanaman. Terutama pupuk kandang yang belum mengalami proses pengomposan yang baik. Sedangkan humic acid bersih dari bakteri atapun jamur patogen penyebab penyakit. Bahkan dapat meningkatkan hormon organik dalam jaringan tanaman, sehingga tanaman lebih tahan terhadap serangan penyakit.

Saat ini, riset mengenai humic acid sudah sangat berkembang sehingga memungkinkan memproduksi humus dengan kandungan humic acid yang tinggi. Namun, di Indonesia produk ini masih terbatas penggunaannya karena masih bergantung pada produk impor.
Dari keterbatasan suplai produk humic acid yang terungkap saat panen raya tanaman singkong di Blambanganpagar, Lampung Utara, Sabtu (19-2), perusahaan di Indonesia sudah mampu memproduksi humic acid dengan kandungan 55% dengan merek Humustar.

Produk ini didistribusikan di Lampung oleh CV Bimagro Indonesia yang memprakarsai acara panen raya tersebut setelah melakukan pengujian selama 8 bulan di lahan milik petani singkong Sarpin, dengan luasan 350 ha setiap musimnya.

Dari hasil pengujian, terjadi peningkatan sangat signifikan. Humustar mampu meningkatkan panen singkong 15%—30% dibandingkan yang tidak menggunakan. Selain itu, secara fisik terjadi perbaikan struktur tanah menjadi lebih gembur dan subur.
Staf peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Lampung, Ngatinem yang meneliti peranan humic acid mengatakan hal itu terjadi karena fungsi humic acid mampu meningkatkan kesuburan tanah baik secara fisika, kimia, dan biologi.

Regional Sales Manager Humustar wilayah Sumbagsel Limpat Setia Budi mengatakan produk humic acid ini dapat menggantikan fungsi pupuk kandang dengan dosis 50 kg/ha yang setara dengan 10 ton pupuk kandang.


Humic acid juga dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Saat ini penggunaannya sudah dilakukan pada tanaman semangka, padi, jagung, kopi, kelapa sawit, dan tanaman lainnya di beberapa wilayah Provinsi Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu.

"Harapannya dengan adanya humic acid ini mampu menjadi solusi peningkatan kualitas kesuburan tanah dengan cara mudah dan murah. Serta menjamin peningkatan produksi pertanian dalam jangka panjang dengan biaya produksi ekonomis sehingga terjadi peningkatan kesejahteraan petani di Lampung khususnya dan Indonesia pada umumnya," kata Limpat. (NOV/E-1)
Untuk informasi lebih lanjut, konsultasi produk dan permintaan demonstrasi produk Bapak Limpat Setia Budi dapat di hubungi di 081379222000 atau hubungi kantor Bimagro Jakarta : 021-29003490 atau e-mail ke : Bimagro@yahoo.com

Monday, August 2, 2010

Rehabilitasi Lahan Kritis dengan Asam Humat


Rehabilitasi Lahan Kritis dengan Asam Humat
07 Jun 2010



Lahan kritis dapat direhabilitasi dengan memanfaatkan asam humat. Bahan itu lebih ekonomis ketimbang mengggunakan pupuk buatan dan atau kompos. Meski Indonesia kerap disebut-sebut sebagai negeri yang subur dan kaya akan sumber daya alam, ternyata di Tanah Air banyak pula terdapat lahan kritis. Timbulnya lahan itu bukan hanya disebabkan fenomena alam, tetapi juga akibat ulah manusia yang merusak lingkungan, semisal penambangan, penggundulan hutan, eksploitasi terus-menerus, penggunaan pupuk berbahan kimia, serta pembuangan sampah dan limbah industri yang tidak memperhatikan keseimbangan lingkungan.
Lahan yang sudah kritis tidakefi-sien untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian dan perkebunan. Dilihat dari segi lingkungan, lahan itu membahayakan fungsi hidrologi, permukiman, dan kehidupan sosial. Hal tersebut dikarenakan lahan kritis kurang memiliki fungsi sebagai media tumbuh, pengatur tata air, unsur produksi pertanian, serta perlindungan alam dan lingkungan.

Lahan kritis telah mengalami kerusakan baik secara fisika, kimia, maupun biologi. Jumlah lahan kritis di Indonesia semakin meningkat seiring adanya pembukaan dan penggundulan hutan, penambangan, serta eksploitasi yang berlebihan terhadap tanah. Diperkirakan saat ini luas lahan kritis mencapai 77,8 juta hektare, yang terdiri dari lahan agak kritis mencapai 47,6 juta hektare, lahan kritis seluas 23,3 juta hektare, dan lahan sangat kritis mencapai 6,8 juta hektare.
Mengingat besarnya luas lahan tidak produktif tersebut, maka diperlukan upaya rehabilitasi agar lahan tersebut kembali produktif. Lahan kritis apabila terus dibiarkan akan membahayakan kehidupan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Lahan kritis dapat mengakibatkan banjir apabila hujan tiba.

Biasanya ada beberapa cara merehabilitasi lahan kritis, di antaranya memanfaatkannya untuk lahan pertanian dengan teknik tertentu, membuat teras-teras untuk mengurangi erosi tanah, penghijauan atau reboisasi, reklamasi, serta menghilangkan zat cemar di lahan tersebut
Menurut Azwar Rasyidin, dosen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Sumatra Barat, lahan kritis kini dapat diatasi dengan teknik bioteknologi. Teknik itu salah satunya melingkupi pemanfaatan asam humat yang bisa diperoleh dari limbah rumah tangga baik di perdesaan maupun perkotaan.

Untuk mendapatkan asam humat, cara yang harus ditempuhialah menguraikan bahan-bahan organik dari limbah rumah tangga, seperti unja dan sampah sehari-hari. Melalui proses humifikasi atau pengomposan, asam humat tersebut selanjutnya digunakan sebagai humus. Asam humat dikenal sebagai bahan yang bisa menyuburkan tanaman.

Pasalnya, senyawa itu membantu proses pelepasan zat hara, seperti nitrogen (N), kalsium (Ca), Kalsium (K), dan Fosfor (P). Karena itu, asam humat berguna dalam mengubah lahan kritis menjadi lahan potensial. "Asam humat memiliki kemampuan untuk merangsang aktivitas mikroba dalam tanah. Aktivitas mikroba di dalam tanah bisa membantu tanaman mendapatkan zat-zat gizi seperti nitrogen dan kalium," ujar Azwar.
Mikroorganisme tanah akan mendegradasi bahan organik di dalam tanah, sehingga membentuk lebih banyak humus dan menambah penyerapan tanah yang dapat membantu aerasi dan penyimpanan air hujan. Apabila dibandingkan dengan pupuk buatan dan variasinya, kemampuan pelepasan unsur hara oleh asam humat lebih lambat.
Namun, hal tersebut justru membuat unsur hara tersimpan lebih awet. Jika pupuk buatan melepaskan nitrogen dalam waktu enam bulan dan kompos satu hingga dua tahun, asam humat memerlukan waktu empat hingga 10 tahun.
Lebih Ekonomis

Penggunaan asam humat dalam memperbaiki kondisi lahan kritis terbilang lebih ekonomis dibandingkan dengan penggunaan pupuk buatan. Pemberian asam humat sebanyak 10 ribu kilogram untuk setiap hektare mampu menyuplai kebutuhan N sebanyak 69 kilogram, P sebesar 63,5 kilogram, K sebanyak 38 kilogram, Ca dan magnesium (Mg) masing-masing sebanyak 24 kilogram dan 6 kilogram.

Hal lain yang menguntungkan dari penggunaan asam humat untuk memperbaiki kondisi lahan kritis ialah hingga tahun keempat, unsur-unsur hara yang dikeluarkan tersebut akan relatif sama dengan tahun pertama. "Sampai tahun kelima humat melepaskan 50 persen kandungan bahan-bahannya," papar Azwar. Pelepasan nitrogen diartikan pula humat mampu menyu-plai zat karbon ke dalam tanah yang Iebih besar ketimbang kompos.

Sebagai contoh, untuk memperbaiki lahan bekas ladang ubi kayu yang telah mengalami eksploitasi besar-besaran agar memiliki kandungan bahan organik 2 persen diperlukan waktu 63,8 tahun. Bahan organik itu diperoleh dari kompos yang diberikan sebanyak 10 ton per hektare per tahun selama 65 tahun. Bandingkan dengan bahan humat, dengan jumlah yang sama, yakni 10 ton per hektare per tahun, waktuperbaikan hanyalah 7,3 tahun.

Selain bekas ladang ubi kayu, perbaikan lahan dengan memanfaatkan asam humat juga bisa diterapkan pada lahan yang pernah ditanami tebu. Pemberian humat bisa menggantikan unsur N yang terserap tebu sebanyak 20 ton per hektare per musim. Kebutuhan humat untuk memperbaiki lahan yang akan ditanami jagung, kol, ketela rambat lebih banyak ketimbang tebu. I.ni.nu.ni i.in.in..111 itu juga membutuhkan unsur K.

Untuk lahan kritis yang akan ditanami padi, agar lahan terebut bisa menghasilkan gabah sebanyak empat ton per hektare, diperlukan bahan humat sebanyak 10 ribu kilogram per hektare. Sedangkan jika produksi gabah ingin digenjot hingga mencapai delapan ton per hektare, humat yang dibutuhkan sebanyak 10 ton.

Meski produktivitas lahan meningkat akibat adanya penambahan humat, tetap saja harus diikuti dengan pemberian pupuk anorganik. Tujuannya agar tanah tidak kehilangan unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman sehingga lahan pun masih dapat ditanami.

Azwar yang meraih gelar doktor dari Universitas Shimane, Jepang, itu mengatakan penggunaan asam humat yang bersumber dari limbah rumah tangga perkotaan, industri, dan pertanian kini telah menjadi kebutuhan yang cukup mendesak. Hal tersebut didasarkan pada fakta bahwa penggunaan humat bisa menghemat sumber daya mineral berupa gas sebagai bahan pembuat pupuk buatan. Selain itu, humat juga bisa memfungsikan kembali limbah untuk keperluan yang bermanfaat. hay/L-2


(Untuk keterangan lebih lanjut tentang Asam Humat/Humic Acid silahkan hubungi kontak person di bawah ini)


Bp. Mardianto - Jakarta (0812-1056712)

Bp. Limpat Setia Budi - Lampung (0813-79222000)

Bp. Iwan - Jawa Tengah (081325881741)

Monday, June 28, 2010

Humus, Material Organik Penyubur Tanah


Humus, Material Organik Penyubur Tanah
Ditulis oleh Sinly Evan Putra pada 13-10-2008

di sadur dari www.chem-is-try.org

Sewaktu kita belajar di sekolah dasar, kita pernah di ajarkan tentang materi tanah subur. “Tanah yang subur adalah tanah yang banyak mengandung humus” itulah kira-kira ucapan guru kita sewaktu itu. Selain humus, mungkin istilah lain yang juga familiar bila kita membicarakan tanah subur adalah pupuk dan kompos. Ketiga istilah ini saling berkaitan, jika kita menginginkan tanah yang subur, maka kita memerlukan pupuk. Teknik yang umum untuk membuat pupuk adalah dengan pengomposan. Dan kandungan utama dari kompos adalah humus. Humus ini merupakan penentu akhir dari kualitas kesuburan tanah.

Secara sederhana humus didefinisikan sebagai material organik yang berasal dari degradasi ataupun pelapukan daun-daunan ataupun ranting-ranting tanaman yang membusuk (mengalami dekomposisi) yang akhirnya berubah menjadi humus (bunga tanah), dan kemudian menjadi tanah. Sedangkan secara lebih kimia, humus didefinisikan sebagai suatu kompleks organik makromolekular yang mengandung banyak cincin dan subtituen-subtituen polar seperti fenol, asam karboksilat, dan alifatik hidroksida.

Dewasa ini riset di bidang humus sangatlah aplikatif, hal ini dimungkinkan karena kondisi tanah di Indonesia yang terdapat banyak lahan-lahan marginal yang umumnya berjenis tanah ultisol. Tanah ultisol merupakan jenis tanah yang unsur haranya rendah dan bersifat masam. Untuk meningkatkan kualitas jenis tanah ini sehingga diperlukan penambahan pupuk organik ke dalam tanah yang didalamnya kaya akan humus.

Sebagaimana telah disinggung diatas, tehnik yang umum untuk menghasilkan humus adalah dengan tehnik pengomposan, karena humus merupakan komponen utama dari kompos. Bahan baku untuk kompos selain dari pada daun ataupun ranting pohon yang berjatuhan, dapat juga dari limbah pertanian dan peternakan, industri makanan, agro industri; kulit kayu, serbuk gergaji (abu kayu), kepingan kayu, endapan kotoran, sampah rumah tangga ataupun limbah-limbah padat perkotaan. Ini berarti sumber bahan baku humus di Indonesia sangatlah melimpah. Selain itu pendaurulangan limbah-limbah organik ini juga menguntungkan karena dapat mengatasi permasalahan limbah dan pencemaran lingkungan.

Komponen Kimiawi Fraksi Humus

Kompos terutama tersusun atas material organik dan sedikit material anorganik. Hasil dari pemecahan material organik oleh mikrobiologi dalam kompos akan membentuk humus. Fraksi humus ini terdiri dari dua komponen kimiawi yaitu:

a. Humus substans

Material humus substans disusun oleh 60-80% kompos material organik yang mempunyai ciri warna coklat gelap dengan berat molekul beragam dari 200-300.000 g/mol. Material ini adalah produk sintesis sekunder dari senyawaan organik sederhana yang terbentuk karena pemecahan material organik oleh mikrobiologi. Humus subtans ini dapat dipisahkan atas asam fulvat, asam humat dan humin.


a. Asam Fulvat
Berat molekul : 1000-5000 g/mol
Asam fulvat berwarna terang, larut dalam seluruh daerah pH, dan sangat rentan terhadap serangan mikroba

b. Asam Humat (Humic Acid)
Berat Molekul : 10.000-100.000 g/mol
Asam humat dibentuk oleh polimerisasi asam fulvat melalui rantai ester, larut dalam basa tapi tidak larut dalam asam

c. Humin
Berat Molekul : > 100.000 g/mol
Berwarna coklat gelap, tidak larut dalam asam dan basa, dan sangat resisten akan serangan mikroba


Selain sebagai penyusun material dari fraksi humus, humus substans, asam humat, dan asam fulvat diatas juga merupakan bahan kimia acuan dalam menentukan kedewasaan kompos. Penentuan kedewasaan kompos ini sangat penting, karena apabila kompos yang kita gunakan pada tanah pertanian belum terkompos sempurna atau komposnya masih muda dapat menyebabkan fitotoksisitas terhadap tanaman dan mempengaruhi lingkungan. Secara umum, kompos segar mengandung asam humat dengan mutu rendah sedangkan mutu asam fulvat tinggi. Mutu humus substans tidak berubah selama pengomposan, namun jumlah asam humat bertambah dari 7-8% dalam material kasar, menjadi 12-14% dalam kompos dewasa.

b. Non material Humat


Bahan non humat terlarut terutama disusun oleh polisakarida terlarut, peptida dan asam-asam amino, lemak-lemak, lilin-lilin dan asam-asam yang mempunyai berat molekul kecil. Senyawa-senyawa ini dengan mudah diserang oleh mikroorganisme dan terdegradasi dalam waktu yang singkat.

Peranan Humus bagi Kualitas Tanah
Kompos yang kandungan terbesarnya adalah senyawa humus merupakan sumber makanan bagi tanaman dan akan berperan baik bagi pembentukan dan menjaga struktur tanah. Senyawa humus juga berperan dengan sangat memuaskan terutama dalam pengikatan bahan kimia toksik dalam tanah dan air. Selain itu humus dapat meningkatkan kapasitas kandungan air tanah, membantu dalam menahan pupuk anorganik larut-air, mencegah penggerusan tanah, menaikan aerasi tanah, dan juga dapat menaikkan fotokimia dekomposisi pestisida atau senyawa-senyawa organik toksik. Dengan demikian sudah selayaknya pupuk-pupuk organik yang kaya akan humus ini menggantikan peranan dari pupuk-pupuk sintesis dalam menjaga kualitas tanah.

Penutup
Penangganan masalah limbah organik dari lingkungan dengan tehnik pengomposan, telah lama dikenal orang. Tetapi pengkajian yang lebih mendalam sampai ke tingkat struktur kimiawi humus sepertinya sangat jarang berbagai jurnal melakukan riset dan pembahasan sampai kesana. Pengkajian dan penelitian dibidang humus dengan porsi tersendiri pastilah akan membawa manfaat. Setidaknya dengan mengerti informasi kimiawi dari senyawa humus diharapkan peneliti akan dapat mengevaluasi secara tepat stabilitas dan kedewasaan kompos sehingga pengunaan kompos untuk tujuan peningkatan kesuburan tanah akan tercapai.

Pustaka
Chefetz, B., Hadar, Y., and Chen, Y. 1998. Dissolved Organic carbon Fraction Formed During Composting of Municipal Solid Waste Properties and Significance. Acta Hydrochemica et Hydrobiologica, 26, 172-179.
Hakim, N., M.Y. Nyakpa, A.M. Lubis, S.G. Nogroho, M.K. Saul, M.H. Diha, G.B. Hong, H.H. Bailey. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung, Lampung.
Leenheer, J.A., Rostad, C.E., Gates, P.M., Furlong, E.T. and Ferrer, I., (2001). Molecular Resolution and Fragmentation of Fulvic Acid by Electrospray Ionization/Multistage Tandem Mass Spectrometry. Analytical Chemistry, 73, 1461-1471.
Maizar Syafar. 2005. Limbah Padat sebagai Sumber Humus Substans. Makalah Ilmiah Jurusan Kimia Universitas Lampung.
Maizar Syafar. 2005. Kompos; Suatu alternatif Pemanfaatan Limbah Padat. Majalah Natural/Edisi 11/Th VII/Agustus 2005. Bandar Lampung.
Stevenson, F.J. 1994. Biochemistry of The Formation of Humic Substances. Humus Chemistry, Genesis, Composition, Reactions, 2nd ed. John Wiley & Sons, New York. 496p

Tuesday, January 19, 2010

Panen Bawang Meningkat 50% berkat Humic Acid


Siang itu di sebuah warung kopi didekat kebun bawang di Brebes Jawa Tengah. Nampak beberapa petani yang bercengkrama ringan sambil melepas lelah setelah dari kebun. Mayoritas petani didaerah tersebut adalah petani bawang merah secara turun temurun. Dari warunf kopi tersebut nampak Salah seorang petani bernama Pak Syamsudin yang baru datang dan tampak sumringah sekali siang ini. Apa pasal? ternyata beliau baru saja pulang dari kebun bawangnya di daerah wanasari-brebes untuk negosiasi penjualan bawang merahnya. yang saat itu sudah hampir panen.


Tanaman bawang merah seluas 1/4 bahu (2000 m2) yang di tanam bulan November 2009 lalu berhasil di jualnya kepada pedagang seharga 10 jt rupiah bersih. Artinya dari uang tersebut Pak Syam begitu beliau akrab di panggil tidak perlu mengeluarkan biaya panen lagi. Uang tersebut menurut Pak Syam tinggal di kurangi dengan biaya produksi dari mulai benih (bibit) bawang, pupuk, pestisida dan biaya tenaga kerja siram, tenaga semprot dan lain-lain yang mencapai 5 juta rupiah, maka total keuntungan yang di dapat pak Syamsudin mencapai 5 jt rupiah selama periode tanam bawang merah yang 2 bulan ini.


Hasil tersebut sangat memuaskan Pak Syam. Karena hasil ini diluar dugaannya yang pada saat di panen mencapai bobot 3 ton. atau meningkat sekitar 50% dari panen biasanya, dimana biasanya dari lahan tersebut hanya menghasilkan panen 2 ton saja. Menurut Pak Syam, karena lahannya tersebut memang kondisinya sudah sangat jelek. dari pengalaman meskipun sudah menggunakan pupuk yang banyak juga tetap hasilnya dari tahun ke tahun tidak pernah baik. bahkan terus menurun hasilnya.


Pak Syam menuturkan, bahwa tahun ini dia baru saja mencoba suatu teknologi baru perbaikan tanah pertanian yang di perkenalkan oleh kenalannya yang berasal dari daerah kabupaten Kudus-Jawa Tengah. Produk tersebut adalah Humic Acid. Memang namanya masih sangat asing di kebanyakan telinga petani di Brebes atau bahkan di Indonesia.


Humic acid ini menurut bapak Iwan kenalannya tersebut adalah produk yang berfungsi untuk memperbaiki kondis tanah. Baik dari aspek biologi, fisik maupun biologi tanah. Selama ini teknologi yang ada lebih pada teknologi yang berfokus pada tanamannya. Seperti pupuk (nutrisi tanaman), Benih unggul dan juga pestisida, tapi jarang sekali yang menyinggung atau memfokuskan diri pada teknologi yang berpusat pada tanah.

padahal isu tentang kerusakan tanah akibat dari penggunaan pupuk kimia yang berlebihan sudah lama terdengar.


Peranan Humic acid dalam tanah sendiri adalah sebagai Chelator atau chelating agent. dimana humic acid berperan untuk menangkap nutrisi tanaman yang ada di tanah dan merubahnya menjadi dalam bentuk tersedia bagi tanaman. Selain nutrisi, humic acid akan menangkap ion-ion logam yang beracun di dalam tanah. sehingga tidak sampai mengganggu atau meracuni tanah dan tanaman.


Jika melihat dari fungsi humic acid sebagai bahan perbaikan tanah baik secara biologi, fisik maupun kimia. jika kita urai satu persatu, Fungsi humic acid secara biologi adalah ;
ØMerangsang dan meningkatkan produksi enzim dalam tanaman
Ø Merangsang pertumbuhan micro organisme dalam tanah
Ø Meningkatkan jumlah klorofil tanaman
Ø Berperan sebagai organik ZPT yang mampu merangsang biomass tanaman (panen)
ØMeningkat kekebalan tanaman terhadap penyakit tanaman


Sedangkan secara fisik. Fungsi humic acid adalah ;

ØMemperbaiki Struktur tanah
ØMencegah erosi dan juga kepecahan tanah
ØMemperbaiki aerasi tanah
Ø Menggelapkan warna tanah sehingga sinar matahari dapat efektif di serap oleh tanah


dan secara kimiawi humic acid berfungsi ;
ØMenetralisir pH tanah
Ø Meningkatkan serapan pupuk dan air oleh tanaman
Ø Mengikat racun di dalam tanah (terutama logam seperti Fe (besi) dan Alumunium
Ø Merubah pupuk menjadi dalam bentuk tersedia bagi tanaman


Dengan melihat peranan dan fungsi dari Humic Acid tersebut, maka wajar jika hasil akhir yang didapatkan seperti Pak Syam berupa peningkatan panen sampai dengan 50%. Karena kondisi tanah pertanian kita yang sudah rusak, meskipun di pupuk dalam jumlah yang besar tidak akan memberikan respon lagi terhadap peningkatan hasil.


Humic acid di gunakan Pak Syam dengan takaran 50 kg/ha sekali aplikasi. Dan selama satu musim di gunakan 2 kali pemakaian. pemakaian pertama di lakukan pada saat tanaman berumur 5 Hari setelah Tanam (HST) d campur dengan pupuk. dan dalam hal ini Pak Syam menggunakan phonska sebesar 250 kg/ha. Penggunaan ke-2 pada pada umur 18 HST dengan juga di campur dengan phonska 200 kg/ha.


Selama pertanaman sebelum panen, Pak Syam mengamati tanamannya yang menggunakan humic acid memiliki ciri-ciri ;
•Tanaman lebih tinggi tetapi tetap kokoh dan tahan rebah
•Fase generatif lebih cepat sampai dengan 5 hari (dari normal)



Pak Syamsudin sangat senang sekali dan berterima kasih kepada Pak Iwan yang sudah memperkenalkan produk humic acid dengan merek dagang Humustar tersebut. Pak Syamsudin sudah sangat puas dan akan terus menggunakan Humic acid (Humustar) pada setiap pertanaman baik bawang merah maupun tanaman padinya nanti.

Memang produk ini masih belum di pasarkan secara masal di brebes, karena masih tahap percobaan dan karena itu Pak Syamsudin akan membantu untuk petani yang tertarik menggunakan dengan menghubungi beliau di no telp. 081318608535 untuk mendapatkan cerita yang lebih detail tentang penggunaan produk tersebut. Dan Pak Syamsudin juga membagikan nomor telp. Bapak Iwan di 081325881741 apabila ada yang ingin langsung mencoba produk humustar (humic acid) tersebut.

Monday, July 27, 2009

HUMIC ACID Harapan baru pertanian Berwawasan lingkungan

SEJARAH SINGKAT

Berawal sekitar 60 tahun yang lalu, Lydia Khristeva seorang peneliti dari Universitas Kherson USSR, berhasil menghasilkan asam humus (humid acid) dari tanah biasa, dan kemudian disiramkan pada tanaman. Ternyata pertumbuhan tanaman tersebut meningkat pesat disertai dengan pembentukan sistem akar yang kuat. Untuk pertama kali aktifitas biologi humat ditemukan. Lydia Khristeva mendedikasikan seluruh hidupnya untuk meneliti humat. Kemudian penelitian tersebut ditindaklanjuti oleh peneliti-peneliti dari negara lain seperti Uzbekistan, Cekoslovakia, Italia, dan Amerika, dll.

TEORI HUMATE

Asam humus (humid acid) adalah sebuah substansi yang memiliki struktur yang kompleks dengan berat molekul 1500. Secara praktis tidak larut (insoluble) atau mengendap dengan asam tetapi larut (soluble) dengan basa. Struktur kimia humid acid memiliki banyak gugus fungsional antara lain : 1. Gugus karboksil (-COOH) dan gugus phenol (-OH), keduanya memiliki muatan ion negatif sehingga mampu mengikat ion positif logam berat dan membentuk sebuah kompleks organo logam atau senyawa khelat (chelate) ; 2. gugus kuinon yang mampu menangkap dan mengumpulkan energi sinar matahari dan merubahnya dalam bentuk tingkat energi yang lebih tinggi. MANFAAT HUMATE BAGI TANAH Humid acid yang terkandung dalam humate bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah. Peranan humic acid bagi tanah adalah kaitannya dengan perubahan sifat-sifat tanah, yaitu sifat fisika, biologi, dan kimia tanah. 1.PENGARUH HUMAT PADA SIFAT FISIKA TANAH
Humic acid mempunyai kemampuan arbsorsi air sekitar 80-90%. Sehingga pergerakan air secara vertikal (infiltrasi) semakin meningkat dibanding secara horisontal, berguna untuk mengurangi resiko erosi pada tanah. Selain itu juga meningkatkan kemampuan tanah menahan air.
Humic acid berperan sebagai granulator atau memperbaiki struktur tanah. Terjadi karena tanah mudah sekali membentuk kompleks dengan humid acid , terjadi karena meningkatnya populasi mikroorganisme tanah, diantaranya adalah jamur, cendawan dan bakteri. Karena humic acid digunakan sebagai penyusun tubuh dan sumber energinya. Cendawan tersebut mampu menyatukan butir tanah menjadi agregat. Sedangkan bakteri berfungsi sebagai semen yang menyatukan agregat, sementara jamur dapat meningkatkan fisik dari butir-butir prima. Hasilnya adalah tanah yang lebih gembur berstruktur remah dan relatif lebih ringan.
Meningkatkan aerasi tanah akibat dari bertambahnya pori tanah (porositas) akibat pembentukan agregat,. Udara yang terkadung dalam pori tanah tersebut umumnya didominasi oleh gas-gas O2, N2, dan CO2. Hal ini penting bagi pernapasan (respirasi) mikro-organisme tanah dan akar tanaman.
Menggelapkan warna tanah menjadi semakin coklat kehitaman, sehingga meningkatkan penyerapan radiasi sinar matahari yang akan meningkatkan suhu tanah menjadi lebih hangat.2.PENGARUH HUMATE PADA SIFAT KIMIA TANAH
Meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK). Peningkatan tersebut menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur-unsur hara atau nutrisi. Humic acid membentuk kompleks dengan unsur mikro sehingga melindingi unsur tersebut dari pencucian oleh air hujan. Unsur N,P, dan K diikat dalam bentuk organik atau dalam tubuh mikroorganisme sehingga dapat dipertahankan dan sewaktu-waktu dapat diserap oleh tanaman. Sehingga dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia.
Humic acid mampu mengikat logam berat (membentuk senyawa khelate) kemudian mengendapkannya sehingga mengurangi keracunan tanah.

Meningkatkan pH tanah asam akibat penggunaan pupuk kimia yang terus menerus. Terutama tanah yang banyak mengandung alumunium. Karena asam humus mengikat Al sebagai senyawa kompleks yang sulit larut dalam air (insoluble) sehingga tidak dapat terhidrolisis

Ikatan kompleks yang terjadi antara asam humus dengan Fe dan Al merupakan antisipasi terhadap ikatan yang terjadi antara unsur P (phosphorus) dengan Al dan Fe, sehingga unsur P dapat terserap secara maksimal oleh tanaman.3.PENGARUH HUMATE PADA SIFAT BIOLOGI TANAH
Akibat pengaruh humic acid terhadap sifat fisika dan kimia tanah, sehingga menciptakan situasi tanah yang kondusif untuk menstimulasi perkembangan mikroorganisme tanah yang berfungsi dalam proses dekomposisi yang menghasilkan humus (humification).
Aktifitas mikroorganisme di atas tanah akan menghasilkan hormon-hormon pertumbuhan seperti auxin, sitokinin., dan giberillin
AUXIN, berfungsi :
Merangsang proses perkecambahan biji ;
Memacu proses terbentuknya akar dan pertumbuhannya ;
Merangsang pucuk tanaman dan akar yang tak mau berkembang menjadi mampu berkembang kembali.
SITOKININ, berfungsi :
Memacu pembelahan dan pembesaran sel sehingga mampu memacu pertumbuhan ;
Merangsang pembentukan tunas-tunas baru ;
Mencegah kerusakan pada hasil panenan,sehingga lebih awet.
GIBERELIN, berfungsi :
Meningkatkan pembungaan dan pembuahan ;
Meningkatkan prosentase jadinya bunga dan buah;
Mengurangi kerontokan bunga dan buah ;
Mendorong partenokarpi atau pembuahan tanpa proses penyerbukan.MANFAAT HUMATE BAGI TANAMAN Humate bermanfaaat untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Terdapat dua proses penting yaitu:
Peningkatan energi sel tanaman dan sebagai hasilnya adalah intensifikasi proses pertukaran ion. Sehingga mempercepat pertumbuhan sistem akar dan membuat akar lebih panjang.
Peningkatan penetrasibilitas (kemampuan penyerapan) membran sel tanaman. Memudahkan nutrisi untuk terserap ke dalam sel serta mempercepat proses pernapasan (respirasi) tanaman.

Pembentukan sistem akar yang kuat dan panjang memberikan efek yang baik tanaman. Daya serap dan jelajah akar semakin maksimal untuk mencari unsur hara dan nutrisi dalam tanah. Kemampuan sel tanaman dalam menyerap nutrisi semakin baik, sebagai akibat dari kapasitas tukar kation (KTK) humic acid sangat tinggi (perlu diketahui bahwa penyerapan nutrisi oleh tanaman melalui mekanisme pertukaran ion).

Secara komersial sudah tersedia beberapa merek dagang untuk produk humic acid. Salah Satunya yang penulis temukan adalah merek HUMUSTAR yang merupakan produk dalam negeri yang di produksi oleh salah satu perusahaan nasional di Tangerang. Memiliki kandungan Humic acid 50% dan juga telah terbukti kualitasnya karena telah di gunakan oleh petani di beberapa wilayah Indonesia, terutama petani padi di pulau jawa.

Untuk keterangan lebih lanjutkan silahkan tinggalkan pesan di sini.
Semoga memberikan manfaat